PristiwaNews || “Hutan Hilang, Wisata Tumbuh — Siapa di Balik Pembabatan Cisadon?”
Bogor – Kawasan hutan milik negara yang berada di wilayah Cisadon, Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (16810) kini kian memprihatinkan.
Tutupan hutan yang dulu lebat dan menjadi penyangga ekosistem kawasan Gunung kini tampak gundul, akibat maraknya pembukaan lahan yang dilakukan untuk aktivitas wisata tanpa izin dan tanpa kajian lingkungan yang memadai.
Di berbagai titik, terlihat hutan yang dulunya rimbun kini berubah menjadi camping ground, kafe alam, dan jalur wisata off-road. Aktivitas tersebut berlangsung tanpa perencanaan resmi dan diduga kuat tanpa sepengetahuan penuh dari pihak Perum Perhutani, yang seharusnya menjadi pengelola kawasan hutan tersebut.
Warga sekitar mengaku tidak tahu-menahu soal perizinan aktivitas tersebut.

“Kami cuma lihat tiba-tiba banyak alat berat, banyak orang dari luar datang, tebang pohon, buka lahan, bangun tenda dan saung. Katanya buat wisata alam. Tapi enggak pernah ada sosialisasi,” ujar salah seorang warga Cisadon, Rabu (23/10/2025).
Menariknya, menurut informasi yang diterima dari masyarakat sekitar, pelaku utama pembukaan lahan justru bukan warga lokal.
Hal ini juga dibenarkan oleh Joe Salim, seorang aktivis lingkungan yang selama ini aktif mengawasi kondisi hutan di kawasan Bogor dan sekitarnya.

“Dari informasi yang saya dapat di lapangan, justru yang membuka lahan di kawasan Cisadon ini kebanyakan bukan masyarakat pribumi, tapi pihak luar daerah, ada yang dari Jakarta, bahkan ada yang dari Tasikmalaya dan wilayah lain,” ungkap Joe Salim, Kamis (23/10/2025).

“Mereka datang membawa modal, mengklaim lahan sebagai bagian dari program hutan sosial atau lahan harapan, padahal kenyataannya dijadikan proyek wisata komersial. Sementara masyarakat lokal hanya jadi penonton, bahkan ada yang merasa kehilangan lahan garapan mereka,” lanjutnya.
Joe menegaskan bahwa pembukaan kawasan tanpa dasar hukum yang jelas dan tanpa kajian AMDAL dapat menimbulkan kerusakan ekologis serius di masa depan.

“Kawasan ini adalah bagian penting dari sistem resapan air dan penyangga lingkungan Babakan Madang. Jika terus dibuka untuk wisata tanpa kontrol, risiko longsor dan kekeringan akan meningkat tajam,” tegasnya.
Lebih lanjut, Joe mendesak Perum Perhutani dan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk segera turun tangan, melakukan audit kawasan dan menertibkan segala bentuk kegiatan wisata ilegal di Cisadon.

“Kalau benar ini dilakukan di kawasan hutan negara, maka harus ada tindakan tegas. Jangan sampai alasan ‘hutan sosial’ dijadikan tameng untuk bisnis pribadi,” katanya menutup wawancara.
Sampai berita ini diturunkan, pihak Perhutani KPH Bogor belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan perambahan dan pengalihfungsian hutan Cisadon tersebut, Namun masyarakat berharap agar instansi terkait segera bertindak sebelum hutan benar-benar habis dan fungsinya hilang selamanya.
Reporter / Editor : Redaktur PristiwaNews
