Minggu, 15 Februari 2026

Pemuda Pancasila 66 Tahun: Momentum Refleksi, Menepis Stigma, dan Menjawab Tantangan Zaman

OrganisasiPemuda Pancasila 66 Tahun: Momentum Refleksi, Menepis Stigma, dan Menjawab Tantangan Zaman

PristiwaNews || Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang

Jakarta – Enam puluh enam tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah organisasi kemasyarakatan. Dalam rentang waktu itu, banyak ormas lahir dan tenggelam, ada yang bertahan sebentar lalu lenyap ditelan zaman. Hanya sedikit yang mampu bertahan lebih dari setengah abad, dan Pemuda Pancasila adalah salah satunya.

Lahir pada 28 Oktober 1959, Pemuda Pancasila kini menapaki usia ke-66. Perayaan ulang tahun kali ini bukan sekadar seremoni belaka. Usia matang ini menuntut refleksi mendalam: apa saja kontribusi yang telah diberikan? Stigma apa yang masih melekat? Dan, lebih penting lagi, ke mana arah langkah Pemuda Pancasila di masa depan?

Dari Garda Pancasila ke Citra Kontroversial

Sejarah mencatat, Pemuda Pancasila lahir di tengah pusaran politik yang penuh gejolak. Saat ideologi komunis makin menguat di awal 1960-an, organisasi ini tampil sebagai garda terdepan penjaga Pancasila. Identitas itu menjadi kebanggaan sekaligus pondasi moral kader-kadernya.

Namun perjalanan panjang itu juga menyisakan kontroversi. Di berbagai literatur, Pemuda Pancasila kerap dikaitkan dengan praktik kekerasan jalanan, citra premanisme, hingga keterlibatan dalam politik praktis yang sering kali dipandang jauh dari nilai luhur Pancasila. Stigma ini, suka atau tidak, masih membayangi hingga kini. Dan hanya dengan kejujuran mengakui, jalan transformasi bisa dimulai.

Tantangan Zaman yang Berubah

Konteks bangsa Indonesia hari ini jauh berbeda dari era kelahiran Pemuda Pancasila. Ancaman ideologi tidak lagi semata-mata komunisme, melainkan tantangan yang lebih kompleks: globalisasi, radikalisme berbasis agama, krisis kepemimpinan, disrupsi teknologi, hingga degradasi moral generasi muda.

Di tengah realitas itu, Pemuda Pancasila sebenarnya punya modal sosial yang luar biasa: jaringan kader yang tersebar hingga ke tingkat ranting di seluruh nusantara. Ini menjadikannya salah satu ormas dengan basis massa terluas. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan besar bila diarahkan pada kegiatan produktif seperti pemberdayaan ekonomi, pelatihan kewirausahaan, pendidikan politik yang sehat, dan program sosial yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Sayangnya, modal besar ini belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Empat Pekerjaan Rumah

Ada empat pekerjaan rumah besar yang harus dijawab Pemuda Pancasila untuk tetap relevan di usia ke-66 ini:

  1. Mengubah Persepsi Publik. Pemuda Pancasila masih identik dengan barisan seragam loreng dan sikap intimidatif. Padahal yang lebih dibutuhkan publik adalah bukti nyata kontribusi bagi bangsa.
  2. Regenerasi Kader. Generasi milenial dan Gen Z menginginkan ruang untuk berkreasi dan berinovasi, bukan sekadar menjadi pengikut. Tanpa regenerasi yang sehat, Pemuda Pancasila berisiko kehilangan relevansi di mata anak muda.
  3. Modernisasi Organisasi. Dunia sudah berubah. Organisasi yang tidak mengikuti arus zaman akan tertinggal. Transparansi tata kelola, pemanfaatan teknologi digital, hingga strategi komunikasi publik yang cerdas harus menjadi agenda utama.
  4. Menghidupi Pancasila. Tantangan terbesar bukan sekadar menjaga, melainkan menghidupi Pancasila. Nilai-nilai gotong royong, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial harus diwujudkan dalam aksi nyata: membela masyarakat kecil, merangkul perbedaan, dan menolak politik identitas.

Suara Embay Supriyantoro

Sekretaris MPW DKI Jakarta Periode 2019–2024, Embay Supriyantoro, menilai ulang tahun ke-66 ini harus dijadikan titik balik.

Dokumentasi Sekretaris PP MPW DKI Jakarta Periode 2019–2024, Embay Supriyantoro

“Pemuda Pancasila tidak boleh terus hidup dalam bayang-bayang stigma masa lalu. Kita lahir untuk menjaga Pancasila, dan hari ini tantangannya bukan hanya menjaga, tapi menghidupinya. Jaga rakyat, tegakkan keadilan, dan rawat persatuan bangsa,” tegas Embay.

Menurutnya, Pemuda Pancasila punya semua modal untuk tampil sebagai kekuatan positif. Dengan jaringan luas dan energi pemuda, transformasi bukan hal mustahil. Namun, syaratnya satu: organisasi harus berani berubah.

Dokumentasi Sekretaris PP MPW DKI Jakarta Periode 2019-2024, Embay Supriyantoro dan Ketua PAC Cisarua, Kab. Bogor Periode 2018-2021, Joe Salim.

“Kita tidak bisa menutup mata. Generasi muda lebih kritis, lebih selektif. Kalau kita tidak memberi ruang gagasan dan inovasi, mereka akan mencari wadah lain. Karena itu, regenerasi harus menjadi kesadaran, bukan sekadar formalitas,” tambahnya.

Embay menekankan bahwa keberanian melakukan modernisasi dan transparansi organisasi juga sangat menentukan.

Era digital menuntut organisasi tampil terbuka. Publik menilai bukan hanya dari aksi lapangan, tetapi juga dari narasi yang kita bangun di ruang digital. Di sinilah Pemuda Pancasila harus menghadirkan wajah baru: inklusif, kreatif, dan solutif,” ujarnya.

Momentum Refleksi

Ulang tahun ke-66 ini adalah momentum refleksi besar. Pemuda Pancasila harus memilih: apakah ingin tetap terjebak dalam romantisme masa lalu dengan stigma yang melekat, atau melangkah ke depan dengan wajah baru yang lebih humanis dan bermartabat.

Bangsa Indonesia membutuhkan organisasi kepemudaan yang matang, dewasa, dan visioner. Organisasi yang tidak hanya kuat secara jumlah, tetapi juga kuat secara gagasan. Bukan hanya disegani, tetapi juga diteladani.

Dengan sejarah panjang, jaringan luas, dan energi kader, Pemuda Pancasila punya semua modal untuk melakukan transformasi. Pertanyaannya tinggal satu: apakah berani keluar dari zona nyaman dan menjawab tantangan zaman?

Reporter/Red

ADVERTISEMENT
Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.