Pristiwa News – Pasaman Barat, 12 September 2026 — Puluhan mahasiswa IAI Yaptip chadijah Ismail Pasaman Barat melaksanakan unjuk rasa damai di depan Gedung Rektorat IAI Yaptip chadijah Ismail Pasaman Barat, Sabtu, 12 September 2026.
Aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa sekaligus bagian dari upaya mendorong evaluasi terhadap tata kelola dan berbagai kebijakan kampus selama satu tahun terakhir.

Dalam aksi tersebut, Gilang Sanjaya bersama sejumlah mahasiswa lainnya turut menyampaikan orasi secara bergantian di depan Gedung Rektorat. Orasi berlangsung kurang lebih selama satu jam dan membahas berbagai persoalan yang menjadi perhatian mahasiswa.
Meski hujan turun selama berlangsungnya aksi, kondisi tersebut tidak mematahkan semangat mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. Dengan tetap menjaga ketertiban, mahasiswa bertahan dan melanjutkan penyampaian pendapat sebagai bentuk komitmen mereka dalam mengawal persoalan kampus.
Beberapa pokok persoalan yang disampaikan dalam aksi antara lain mengenai pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK), penyusunan aturan organisasi kemahasiswaan, dukungan pendanaan kegiatan Ormawa, menurunnya jumlah mahasiswa baru, serta transparansi dan profesionalitas dalam proses rekrutmen dosen.
Mahasiswa menilai bahwa kebijakan yang berkaitan langsung dengan kehidupan kemahasiswaan perlu disusun secara transparan dan melalui proses koordinasi serta partisipasi mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan.
EVALUASI SATU TAHUN KEPEMIMPINAN
Salah satu fokus utama aksi adalah evaluasi satu tahun kepemimpinan dan tata kelola pimpinan IAI Yaptip chadijah Ismail Pasaman Barat.
Mahasiswa mendorong agar evaluasi mencakup berbagai aspek, mulai dari akademik, kemahasiswaan, pelayanan mahasiswa, penerimaan mahasiswa baru, pengembangan organisasi kemahasiswaan, hingga keterbukaan dalam pengambilan kebijakan.
Mahasiswa juga menyuarakan pentingnya evaluasi dan revisi Buku Panduan IAI Yaptip chadijah Ismail Pasaman Barat, terutama aturan yang berkaitan dengan Ormawa, UKM, UKK, kegiatan mahasiswa, mekanisme pendanaan, hak dan kewajiban mahasiswa, serta ruang partisipasi mahasiswa dalam penyusunan kebijakan.
AKSI DAMAI DAN RUANG DIALOG
Dalam penyampaian aspirasi, mahasiswa menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan aksi damai dan kritik konstruktif terhadap institusi.
Mahasiswa tidak bermaksud menjatuhkan nama baik kampus maupun menyerang pribadi pihak tertentu. Aspirasi disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan, kemajuan, dan perbaikan tata kelola IAI Yaptip chadijah Ismail Pasaman Barat.
Aksi tersebut mendapat perhatian dan diterima oleh beberapa dosen yang hadir di lokasi. Hal tersebut menjadi bagian dari ruang dialog antara mahasiswa dan unsur civitas akademika.
Mahasiswa berharap aspirasi yang telah disampaikan tidak berhenti pada momentum aksi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui forum dialog resmi yang melibatkan pimpinan kampus, dosen, DEMA, Ormawa, dan perwakilan mahasiswa.
POIN UTAMA ASPIRASI MAHASISWA
Mahasiswa secara garis besar menyampaikan tuntutan:
- Evaluasi menyeluruh satu tahun kinerja dan kepemimpinan pimpinan IAI Yaptik Khodijah Ismail Pasaman Barat.
- Evaluasi dan revisi Buku Panduan IAI Yaptik Khodijah Ismail Pasaman Barat, khususnya terkait aturan kemahasiswaan dan Ormawa.
- Transparansi dalam pembentukan UKM dan UKK serta pelibatan mahasiswa dalam prosesnya.
- Pelibatan mahasiswa dan Ormawa dalam penyusunan maupun perubahan aturan kemahasiswaan.
- Transparansi mekanisme pendanaan kegiatan Ormawa, terutama kegiatan yang membawa nama institusi pada tingkat kabupaten maupun lebih luas.
- Evaluasi sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, termasuk strategi promosi, komunikasi, koordinasi, dan pelayanan kepada calon mahasiswa.
- Transparansi proses rekrutmen dosen dan tenaga pendidik, dengan mengedepankan kompetensi, profesionalitas, objektivitas, dan pencegahan konflik kepentingan.
- Pembukaan ruang dialog resmi antara pimpinan kampus dan mahasiswa untuk membahas berbagai persoalan yang disampaikan.
Aksi yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut berjalan secara damai dan tertib. Hujan yang turun tidak menyurutkan semangat Gilang Sanjaya dan mahasiswa lainnya untuk terus menyampaikan aspirasi.
Bagi mahasiswa, menyampaikan kritik bukan berarti membenci almamater. Justru kritik merupakan bentuk kepedulian agar kampus dapat terus berbenah dan berkembang menjadi institusi pendidikan yang lebih baik.
“Kritik bukan kebencian. Evaluasi bukan intimidasi. Mahasiswa bukan objek kebijakan. Kampus adalah ruang ilmu, dialog, dan demokrasi.”
Mahasiswa menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi tersebut secara damai, akademis, konstitusional, dan bertanggung jawab demi kemajuan bersama IAI Yaptip chadijah Ismail Pasaman Barat.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat!
Hidup Pendidikan Indonesia!
(*)Red Ryan
