PristiwaNews || Revitalisasi Bukan Sekadar Mempercantik Kawasan, Pedagang Minta Dilibatkan dan Didengar
PUNCAK CISARUA, BOGOR – Penataan Rest Area Gunung Mas kembali menjadi sorotan. Sejumlah pedagang mengaku tidak dilibatkan dalam pembahasan yang menyangkut keberlangsungan aktivitas mereka, sementara komunikasi dengan manajemen Sayaga disebut belum berjalan secara terbuka.
Pedagang berinisial IR mengatakan, sejak pergantian Direktur Utama Sayaga, belum ada dialog langsung dengan Dirut baru maupun perwakilannya.

“Tidak ada dialog atau pertemuan dengan para pedagang sejak pergantian Dirut baru. Kita mau komplain, mengeluh, atau memberi masukan pun bingung harus ke siapa.”
Ironisnya, IR mengaku bahkan belum mengetahui siapa Dirut Sayaga yang baru.
“Saya pribadi pun sampai sekarang tidak tahu yang mana Dirut baru.”
Menurut IR, pedagang justru merupakan pihak yang paling memahami kondisi kawasan karena berada di lokasi setiap hari.
“Pedagang ada di sana 24 jam. Tahu karakter pengunjung dan apa yang perlu diprioritaskan supaya rest area ramai bukan hanya saat weekend.”
“Perubahan Baik Apa dan Untuk Siapa?”
Keluhan pedagang kemudian mengarah pada pertanyaan mengenai arah perubahan manajemen Sayaga.
Menurut IR, komunikasi Dirut saat ini dinilai berbeda dan belum membuka ruang diskusi dengan pedagang.
“Dirut yang sekarang ini beda jauh. Sampai hari ini tidak pernah membuka diskusi dengan pedagang, seolah acuh dengan situasi pedagang. Kalau seperti ini, perubahan baik apa dan untuk siapa yang akan dilakukan oleh manajemen Sayaga saat ini?”
Pedagang menegaskan tidak menolak penataan. Mereka justru berharap pembenahan mampu meningkatkan kunjungan sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi pedagang.
KWP: Jangan Sok Tahu, Duduk dan Diskusi

Sorotan tersebut mendapat perhatian Joe Salim, Humas sekaligus aktivis lingkungan dan masyarakat dari Karukunan Wargi Puncak (KWP).
Joe meminta pemerintah dan manajemen tidak mengambil kebijakan hanya berdasarkan asumsi, tetapi turun langsung memahami kondisi lapangan.
“Jangan sok tahu. Duduk, diskusi, dan pahami suara pedagang dan masyarakat, agar tidak terjadi mispersepsi lagi. Ulah tonggoy, tong balangah, ngawangkong mun giat di Puncak teh.”
Joe juga mengingatkan bahwa penataan harus dilakukan secara terbuka dan melibatkan masyarakat.
“Sayaga atau pemerintah, jangan egois. Ajak pedagang, masyarakat diskusi. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Ingat, ada uang rakyat yang dipergunakan di sana.”
Jangan Sekadar Percantik Kawasan
Pedagang berinisial M. menyambut baik pembenahan fisik Rest Area Gunung Mas. Menurutnya, kawasan yang rapi dan menarik dapat meningkatkan minat pengunjung.
“Kalau dipercantik dan dirapikan, pengunjung akan lebih tertarik mampir dan betah berlama-lama. Pedagang pun otomatis ikut merasakan dampak ekonomi yang positif.”
Namun, ia menilai ketertiban juga harus menjadi bagian dari penataan, termasuk aktivitas pedagang yang mangkal di sekitar akses gerbang.
“Gimana rest area akan ramai pengunjung kalau para pedagang di motor masih mangkal di depan gerbang? Ini harus diatur dan diselesaikan.”
Karena itu, penataan tidak cukup hanya menyentuh gapura dan bangunan, tetapi juga harus mencakup kebersihan, keamanan, ketertiban, pengelolaan pedagang, serta strategi agar kawasan tidak hanya ramai pada akhir pekan.
Uang Rakyat Harus Kembali Menjadi Manfaat

Sorotan KWP mengenai penggunaan uang rakyat bukan merupakan tuduhan adanya penyimpangan anggaran. Namun, penggunaan sumber daya publik menuntut transparansi dan akuntabilitas.
Ukuran keberhasilan penataan bukan hanya kawasan yang terlihat lebih bagus, tetapi apakah pengunjung bertambah, pedagang mendapat manfaat ekonomi, fasilitas membaik, kawasan lebih tertib, dan masyarakat merasa dilibatkan.
Kini pedagang menunggu dialog langsung dengan manajemen Sayaga.
Sebab, jika penataan benar-benar dimaksudkan untuk membuat Rest Area Gunung Mas lebih baik, suara mereka yang setiap hari berada di kawasan tersebut tidak semestinya berada di luar meja pembahasan.
Pertanyaan publik pun sederhana: perubahan ini untuk siapa, dan sejauh mana manfaatnya kembali kepada masyarakat?

Catatan Redaksi: Pernyataan dalam berita ini merupakan aspirasi, keluhan, dan pandangan narasumber yang disampaikan kepada PristiwaNews. Tidak ada pernyataan dalam berita ini yang dimaksudkan sebagai kesimpulan mengenai adanya pelanggaran atau penyimpangan. PristiwaNews membuka ruang klarifikasi, tanggapan, dan hak jawab bagi manajemen Sayaga serta pihak terkait.
Reporter || Redaktur PristiwaNews
