PristiwaNews || Niat Baik Harus Diimbangi dengan Sikap Bijak
BOGOR — Video viral yang memperlihatkan seorang tukang pangkas rambut di Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, menjadi perhatian publik setelah beredar luas di media sosial.
Dalam video tersebut, tampak seorang pihak berbicara dengan nada tinggi dan terkesan mendesak pemilik usaha terkait pemasangan bendera Merah Putih menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Peristiwa tersebut kemudian memunculkan berbagai persepsi di tengah masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa pihak yang berbicara dalam video tersebut merupakan pegawai Kecamatan Rancabungur.
Namun, Camat Rancabungur, Dita Aprillia, S.STP, memberikan klarifikasi dan menegaskan bahwa pihak tersebut bukan pegawai Kecamatan Rancabungur.
IBU CAMAT JAMIN PEGAWAI TIDAK BERSIKAP SEPERTI ITU
Ibu Camat Rancabungur menjelaskan bahwa pihak yang berbicara dalam video tersebut merupakan oknum media yang ikut membantu agenda Kecamatan Rancabungur dalam pembagian bendera kepada warga.
Agenda tersebut dilakukan untuk mengajak masyarakat secara bersama-sama memasang bendera Merah Putih sebagai bentuk menyambut dan memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Yang bersangkutan bukan pegawai Kecamatan Rancabungur. Yang dilakukan adalah membantu agenda kami dalam pembagian bendera kepada warga agar bersama-sama memasang bendera dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia,” jelas Ibu Camat.»
Menurut Ibu Camat, keterlibatan pihak luar dalam membantu sebuah kegiatan pemerintah tidak serta-merta menjadikan orang tersebut sebagai pegawai maupun bagian dari struktur Kecamatan Rancabungur.
NIAT BAIK, CARA PENYAMPAIAN TETAP HARUS DIJAGA
Terlepas dari persoalan tersebut, adanya upaya untuk mengajak masyarakat memasang bendera Merah Putih pada dasarnya merupakan hal yang positif.
Namun, niat yang baik tetap harus disertai dengan cara yang baik. Sikap berbicara dengan nada tinggi, apalagi apabila sampai terkesan mendesak atau menekan masyarakat, tentu tidak dapat dibenarkan dalam konteks pelayanan maupun komunikasi dengan warga.
Hal tersebut menjadi penting karena masyarakat berhak mendapatkan perlakuan yang baik, santun, dan menghargai posisi mereka sebagai warga.
Membantu sebuah agenda pemerintah merupakan bentuk partisipasi yang positif. Namun, cara penyampaian tetap harus memperhatikan etika, situasi, serta batas kewenangan masing-masing pihak.
IBU CAMAT JAMIN PEGAWAI TIDAK BERSIKAP SEPERTI ITU
Ibu Camat juga memberikan penegasan mengenai sikap dan etika para pegawai di lingkungan Kecamatan Rancabungur.
Selama dirinya memimpin Kecamatan Rancabungur, ia menjamin bahwa para pegawai memiliki standar etika dalam menjalankan tugas dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Selama saya memimpin Kecamatan Rancabungur, saya menjamin pegawai kami tidak akan bersikap seperti itu. Setiap pegawai memiliki etika, aturan dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tegas Ibu Camat.»
Ia menambahkan, apabila tindakan sebagaimana yang ditampilkan dalam video tersebut dilakukan oleh pegawai Kecamatan Rancabungur, tentu pihaknya akan melakukan evaluasi.
Namun, dalam kasus yang viral tersebut, pihak yang bersangkutan dipastikan bukan pegawai Kecamatan Rancabungur.
AGENDA PEMBAGIAN BENDERA
Ibu Camat menjelaskan bahwa pembagian bendera kepada warga merupakan bagian dari agenda untuk membangun semangat kebersamaan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kami ingin seluruh warga ikut merasakan semangat kemerdekaan. Salah satunya dengan memasang bendera Merah Putih secara serempak,” kata Ibu Camat.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat nasionalisme dan kebersamaan masyarakat.
JOE SALIM: NIAT BAIK HARUS DISAMPAIKAN DENGAN CARA YANG BAIK
Sementara itu, Joe Salim, tokoh muda Kabupaten Bogor, menilai persoalan tersebut perlu dilihat secara proporsional.
Menurut Joe, sangat mungkin pihak yang bersangkutan memiliki niat baik untuk membantu menyukseskan agenda pemasangan bendera dalam rangka menyambut kemerdekaan.
Namun, menurutnya, niat baik tidak otomatis membenarkan cara yang digunakan.
«“Saya kira kita juga harus melihat niat awalnya. Bisa saja niatnya baik, ingin membantu pemerintah dan mengajak masyarakat memasang bendera untuk menyambut kemerdekaan. Itu tentu positif. Tetapi kalau cara menyampaikannya dengan nada tinggi, terkesan mendesak atau membuat warga merasa ditekan, menurut saya itu tetap cara yang salah dan tidak dapat dibenarkan,” ujar Joe Salim.»
Joe menilai kritik terhadap cara penyampaian tersebut tidak berarti harus menghilangkan apresiasi terhadap niat untuk membantu.
“Dua hal ini harus kita pisahkan. Niat membantu bisa kita apresiasi, tetapi cara yang tidak tepat tetap harus dikritisi. Jangan karena niatnya dianggap baik, kemudian semua cara menjadi seolah-olah boleh dilakukan,” katanya.
JANGAN SAMPAI KONTRIBUSI DIANGGAP SEBAGAI KEWENANGAN
Joe juga menyoroti persoalan lain yang menurutnya tidak kalah penting, yakni batas antara kontribusi dan kewenangan.
«“Sekarang ini penggiringan opini selalu terjadi. Biasanya dilakukan oleh mereka yang sebenarnya tidak mempunyai kewenangan, tetapi karena merasa pernah memberikan sedikit kontribusi, kemudian seolah-olah merasa paling mempunyai kewenangan,” ujar Joe.»
Menurut Joe, seseorang yang membantu sebuah kegiatan pemerintah tentu patut diapresiasi. Namun, bantuan tersebut tidak otomatis memberikan kewenangan formal.
«“Kalau membantu kegiatan pemerintah tentu bagus dan harus diapresiasi. Tetapi membantu bukan berarti kemudian memiliki kewenangan sebagai pemerintah. Ini yang harus dipahami agar tidak terjadi salah persepsi,” katanya.»
Ia menilai batas tersebut penting agar masyarakat tidak bingung mengenai siapa yang memiliki kewenangan dan siapa yang hanya membantu kegiatan.
JANGAN HANYA MELIHAT POTONGAN VIDEO
Joe juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan video yang beredar.
«“Jangan hanya melihat potongan video, kemudian langsung menyimpulkan bahwa itu adalah tindakan pemerintah atau pegawai kecamatan. Kita harus melihat konteksnya secara utuh, siapa orangnya, apa kapasitasnya, dan apa agenda sebenarnya,” ungkapnya.»
Menurut Joe, media sosial memang membuat informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Namun, kecepatan tersebut juga dapat membuat sebuah peristiwa dipahami secara tidak utuh.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap kritis dan tidak mudah terbawa oleh narasi yang berkembang.
KONTRIBUSI POSITIF, CARA TETAP HARUS BERETIKA
Joe kembali menegaskan bahwa kontribusi masyarakat dalam membantu kegiatan pemerintah merupakan sesuatu yang positif.
Namun, kontribusi tersebut harus dilakukan dengan tetap menghormati masyarakat dan tidak melampaui batas kewenangan.
«“Silakan berkontribusi sebanyak-banyaknya. Tetapi tetap jaga etika. Kalau kita membantu, jangan sampai cara kita membantu justru menimbulkan persoalan baru. Apalagi kalau masyarakat merasa sedang ditekan atau berhadapan dengan orang yang seolah-olah memiliki kewenangan resmi,” tegasnya.»
Menurut Joe, komunikasi yang baik justru akan membuat pesan yang disampaikan lebih mudah diterima masyarakat.
SEMANGAT KEMERDEKAAN JANGAN KALAH OLEH POLEMIK
Terlepas dari viralnya video tersebut, Joe berharap persoalan ini tidak menghilangkan tujuan awal kegiatan, yakni mengajak masyarakat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
«“Jangan sampai semangat kemerdekaan justru kalah oleh polemik. Kalau tujuan awalnya adalah mengajak masyarakat memasang Merah Putih, tentu itu merupakan hal baik. Yang perlu diperbaiki adalah cara menyampaikannya, bukan semangat untuk mengajak masyarakatnya,” kata Joe.»
Ia berharap kejadian tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat dilakukan dengan cara yang santun, komunikatif, dan menghormati kewenangan masing-masing.
Dengan adanya klarifikasi dari Camat Rancabungur, masyarakat diharapkan memahami bahwa pihak yang berbicara dengan nada tinggi dan terkesan mendesak dalam video viral tersebut bukan pegawai Kecamatan Rancabungur.
Di sisi lain, persoalan tersebut juga menjadi pengingat bahwa niat baik harus berjalan bersama cara yang baik. Membantu pemerintah merupakan hal positif, tetapi cara berkomunikasi dengan masyarakat tetap harus mengedepankan etika, kesantunan, dan penghormatan terhadap warga.
Dengan demikian, semangat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dapat tetap terjaga tanpa harus menimbulkan polemik maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Reporter || Redaktur PristiwaNews
