Kamis, 13 Juni 2024

Tanpa Nuklir

NEWSTanpa Nuklir

PristiwaNews | BAGI Rusia, besarnya perang akan tertutup oleh kenaikan harga minyak dan gas akibat perang itu sendiri. perang tanpa nuklir.

Bagi Jerman, Prancis, Inggris, dan sekutu: biaya perang dari mana?

Mereka harus rapat dulu. NATO harus bersidang. 

Amerika Serikat, pada zaman Presiden Donald Trump pernah ngomel: biaya untuk NATO kurang dibebankan secara merata. Ia tidak mau biaya NATO terlalu dibebankan pada Amerika. 

Di zaman Presiden Barack Obama, NATO tidak melakukan banyak: ketika Semenanjung Krimea diambil Rusia dari Ukraina. 

Di zaman Presiden Biden, dua wilayah lain Ukraina menyatakan diri merdeka —didukung Rusia. Dua hari lalu.

Sampai tulisan dibuat tadi malam, NATO belum bersidang. Padahal bom sudah mulai jatuh di beberapa lokasi militer di Ukraina. Menjelang subuh kemarin. Termasuk di bagian tertentu ibu kota Kiev.

Mungkin itu karena Ukraina memang belum anggota organisasi pertahanan Atlantik Utara. Ukraina sudah mendesak: agar segera diterima sebagai anggota NATO. Tapi Rusia mendukung —dengan ancaman—jika bekas wilayah strateginya bergabung dengan musuh.

Tanpa nuklir dan tanpa NATO Ukraina bukan siapa-siapa. Ia bukan negara yang mampu mempertahankan diri. 

Teoretis Rusia bisa menyerangnya kapan saja —dengan alasan apa saja. Setelah pisah dari Soviet, Ukraina dinilai terlalu genit: mau bersandar ke Barat. 

Peta Pulau Krimea. 
(PETA: bbc.co.uk)

Ukraina sebenarnya punya kekuatan senjata nuklir nomor tiga terbesar di dunia. Bukan utama. Yakni nuklir peninggalan Rusia (d/h Uni Soviet). Anda sudah tahu: sepertiga nuklir Soviet dibangun di wilayah Ukraina. Hanya sedikit yang dibangun di Belarusia dan Kazakhstan. Yang terbanyak tetap berada di Rusia.

Tapi nuklir yang di Ukraina itu tidak boleh lagi digunakan oleh yang berkuasa di sana. Password untuk menghidupkan itu pun tidak di tangan presiden Ukraina. Password itu organisasi negara-negara bekas Uni Soviet. Jangan-jangan password itu pun sudah hilang. Sudah 30 tahun berlalu. Atau jangan-jangan sudah dihilangkan.

Walhasil, sebagai negara dengan senjata nuklir terbesar ketiga di dunia, Ukraina tidak bisa apa-apa. Seorang pengamat militer di Amerika mengatakan: untuk menghidupkan senjata itu Ukraina perlu persiapan selama 12 bulan.

Memang negara-negara Barat ikut menguncinya. Sejak sebelum Ukraina merdeka. Mereka setuju Ukraina merdeka dengan syarat itu: tidak boleh menjadi negara nuklir. Ukraina pun setuju. Lalu merdeka: dapat pengakuan dari Barat dan dunia. 

Dengan kesepakatan itu Ukraina harus membongkarnya. Mungkin kini sudah pula banyak yang dibongkar. Yang belum pun Ukraina tidak bisa menggunakan.

Inilah faktor yang membuat konflik di Ukraina tidak akan menjadi perang dunia ketiga.

Sebenarnya Ukraina sudah mendapat jaminan: Perjanjian Budapest. 

Amerika, Jerman, Inggris, dan Rusia sendiri yang memberikan jaminan itu: jika Ukraina setuju dengan nuklirnya, empat negara itu menjamin keamanannya. Belakangan jaminan itu ditambah lagi oleh Tiongkok.

Ukraina sudah berkali-kali menagih janji itu. Tapi Ukraina tidak punya debt collector yang menakutkan. Terbukti Semenanjung Krimea yang begitu strategis, diambil begitu saja oleh Rusia. Tanpa ada perlawanan. Itu karena Rusia digunakan kapal-kapal perang yang di dalamnya ada senjata nuklirnya. Empat kapal jenis itu parkir di laut dekat Krimea. 

Kini Ukraina mengingatkan lagi Perjanjian Budapest itu. Tapi yang ditagih masih saling lirik sana-sini. Apalagi yang menyerang sekarang ini adalah juga yang mengambil Krimea: salah satu yang bikin janji itu sendiri.

Pipa gas dari Rusia langsung ke Jerman (tanpa melewati Ukraina) : Nord Stream 2. (FOTO: reuters.com)

Presiden Ukraina sebenarnya sudah mencoba menggertak: kalau memang tidak ada jaminan keamanan, Ukraina akan menjadi negara nuklir. Tapi tidak ada yang menggubrisnya. Mereka sudah tahu: gerakan itu tidak akan bisa terlaksana dalam 15 tahun.

Sedang untuk mengubah senjata peninggalan lama sudah tidak mungkin. Semua hulu ledak senjata nuklir itu sudah di-setting untuk menyasar ke bagian-bagian tertentu di Amerika sana. Jarak tempuhnya pun sudah di setting untuk 10.000 Km atau lebih.

Mau dialihkan untuk menghadap ke Moskow? 

Bukalah peta Google. Setting-lah seolah Anda akan bermobil dari Kiev ke Moskow: hanya 8 jam. Kurang lebih hanya sama dari Jakarta ke Malang. Saya pernah ingin berkendara di jalur itu. Setelah nonton final Piala Champions antara Liverpool dan Real Madrid di Kiev. Sudah janjian pula dengan Prof Effendi Gazali. Rencananya gagal. Anda sudah tahu mengapa. Lalu rencana ke Kiev lagi untuk stem cell. Juga gagal: di dalam negeri lebih hebat.

Kini saatnya ke sana: kalau ada teman, kalau ada visa, kalau ada bensin 1 juta. (*)

ADVERTISEMENT
Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.